Era filosof klasik adalah Socrates (470-399 SM), filosof yang tak pernah menuliskan sebaris kalimat pun. Maka dari itu, kehidupan serta apa-apanya tentang Sorates hanya bisa kita ketahui dari seorang Plato, salahsatu muridnya. Dalam novel Dunia Sophie ini, ada empat subjudul mengenai Socrates. Pertama adalah Seni Berdiskusi. Kedua, Suara Ilahi. Ketiga, Seorang Badut di Athena dan terakhir adalah Wawasan yang Benar Menuntun pada Tindakkan yang Benar.
Seni Berdiskusi. Begitulah pada umumnya kita mengenal metode dari Socrates. Ibu dari Socrates adalah seorang bidan. Socrates sering mengatakan bahwa ilmunya itu seperti ilmu bidan. Dia tidak melahirkan sendii anak itu, tapi ia membantu dalam proses kelahiran. Begitu pun Sorates yang menganggap tugasnya seperti membantu orang-orang “melahirkan” wawasan yang benar, sebab pemahaman yang sejati harus timbul dari dalam diri sendiri. Populer juga ‘kan kisah socrates yang berjalan-jalan di alun-alun Athena untuk berdiskusi dengan siapa pun yang ditemuinya.
Kedua, Suara Ilahi. Hal ini berkaitan dengan proses kematiannya. Socrates selalu mengatakan bahwa dia menyimpan “Suara Ilahi” di dalam dirinya. pada 399 SM, dia didakwa “memperkenalkan dewa-dewa baru dan merusak kaum muda”, serta tidak memercayai dewa-dewa yang telah diterima. Juri yang terdiri dari lima ratus orang menyatakannya bersalah. Sebenarnya ia bisa saja mengajukan kelonggaran, setidak-tidaknya nyawanya sendiri bisa terselamtkan. Tapi, itulah Socrates. Ia menghargai hati nurani—dan kebenaran—lebih dari nyawanya sendiri. Akhirnya Socrates dihukum untuk meminum racun cemara guna kepentingan negara.
Ketiga, Seorang Badut di Athena. Umat manusia dihadapkan pada sejumlah pertanyaan sulit yang tidak dapat kita temukan jawaban yang memuaskan dari padanya. Maka muncul dua kemungkinan: kita dapat memperdayai diri sendiri dan dunia dengan berpura-pura bahwa kita mengetahui segala hal yang harus diketahui. Atau kita dapat menutup mata terhadap masalah-masalah penting dan tinggal diam. Dalam hal ini manusia terbagi dua. Secara umum, mereka merasa sangat yakin atau sama sekali tidak peduli. Itu semua seperti membagi sebuangkus kartu menjadi dua tumpukan. Kamu meletakan kartu-kartu hitam di satu tumpukkan dan satu tumpukkan lainnya kartu berwarna merah. Tapi berulang kali si badut muncul dari kartu hati, wajit, kriting sekaligus di kartu sekop. Nah, Socrates adalah badut itu. Dia tidak merasa yakin dan tidak juga acuh tak acuh. Yang diketahuinya adalah kalau dia tidak tahu apa-apa—dan hal ini mengganggunya. Oleh karena itu mengganggunya, ia kemudian menjadi orang yang tak mau menyerah, tetapi terus berusaha tanpa kenal lelah mencari kebenaran. Begitulahh ia seorang filosof.
Keempat adalah Wawasan yang Benar Menuntun pada Tindakkan yang Benar. Seperti telah disebutkan, Socrates menyatakan bahwa dia dituntun oleh suara batin Ilahi, dan bahwa “hati nurani” ini mengatakan kepadanya apa yang benar. “Orang yang mengetahui apa yang baik akan berbuat baik,” katanya. dengan ini, yang dimaksudkannya adalah bahwa wawasan yang benar akan menuntun pada tindakkan yang benar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar